Tampilkan postingan dengan label jember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jember. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Mei 2017

KABUPATEN JEMBER 2016



Jember merupakan nama salah satu kabupaten yang berada di Propinsi Jawa Timur. Letak geografis Kabupaten Jember berada pada posisi 1130 15’ 47’’ sampai 114 02 35 Bujur Timur dan 7058’06’’ sampai 8033’44’’ dengan meliki daratan seluas 3.293,34 km2 (Kabupaten Jember Dalam Angka 2016 : 3).

Wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Jember terbagi menjadi tiga puluh satu (31) kecamatan. Batas-batas wilayah Kabupaten Jember sebagai berikut:
-          Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lumajang;
-          Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Bondowoso;
-          Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi; dan
-          Sebelah Selatan merupakan garis pantai yang di bagian selatannya terbentang luas Lautan Indonesia (Indonesia Ocean).

Informasi pada tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Jember yang meliputi 31 kecamatan dan 248 desa / kelurahan. Di Kabupaten Jember terdapat 972 dusun, 4.146 RW dan 14.215 RT (Kabupaten Jember Dalam Angka 2016: 37).

Jumat, 28 April 2017

ARSITEKTUR MASJID JAMIK (LAMA) JEMBER (PENGARUH TIGA KEBUDAYAAN)


Oleh
Y. SETIYO HADI
Penggagas dan Pengelola Rumah Sejarah
Hp./wa 081232299854

Arsitektur dari pembangunan Masjid Jamik Kota Jember pada tahun 1936 adalah Soegarda. Soegardo ini mengelola Het Bouwkundig Bureau Soegardo, sebuah jasa arsitektur yang ada di Jember pada masanya.

Seperti yang diberitakan dalam Koran berbahasa Belanda Soerabaiasch Handelsblad, Dinsdag-28 April 1936, yang bertajukkan “Djember Nieuwe Moskee”, bangunan Masjid Jamik ini merupakan gabungan dua gaya arsitektur De Stijl yang dianggap sebagai model baru di masanya. Bagian depan (sisi aloon-aloon) sampai Kantor disebut dengan MOZES-STIJL (Gaya Musa), bagian samping (sisi utara, ruang utama) dalam DUDOK-STIJL (Gaya Dudok). Dalam perencanaan pembangunan, menara masjid direncanakan berjumlah 4, atau 5.

Arsitektur Masjid Jamik Jember ini, dalam berita Soerabaiasch Handelsblad, Dinsdag-28 April 1936, yang bertajukkan “Djember Nieuwe Moskee”, diduga yang pertama di Jawa. Sehingga, Masjid ini merupakan permata yang di kala semakin tua usia akan bernilai besar bagi perkembangan sejarah dan kebudayaan Nasional, khususnya perkembangan sejarah Jember. Pojok timur utara dari wilayah masjid, dimana kubah yang besar tempat diletakkannya bedoek”.

Arsitektur dari Masjid Jamik Kota Jember yang dibangun kembali pada tahun 1936 ini merupakan bentuk percampuran tiga kebudayaan dunia, yaitu: kebudayaan Islam, kebudayaan Eropa, dan kebudayaan Jawa.

Kebudayaan Islam berkaitan dengan penggunaan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah umat Islam yang dikenal sebagai Masjid. Ciri lain dari pengaruh kebudayaan adanya kubah seperti layaknya masjid di timur tengah.

Kebudayaan Eropa dipengaruhi gaya arsitektur De Stijl yang berkembang pesat di Eropa khususnya Belanda pada pertengahan abad ke-20 Masehi. Gaya De Stijl sendiri dipromosikan awal dengan munculnya sebuah majalah yang berjudul De Stijl Magazine pada tahun 1917 yang menyakini dalam penerapan seni (termasuk arsitektur) gambaran geometris dengan penggunaan warna dan bentuk yang murni.

Dudok Stijl mengacu pada ide dasar bentuk arsitektur seorang arsitek yang bernama Willem Dudok yang terkenal di tahun 1930-an di Belanda. Willem Dudok mempunyai gaya arsitektur dengan menggabung ide-ide Amsterdam dan pengaruh De Stijl dengan penekanan pada penggunaan bangunan di bagian depan dalam bentuk kubis dan pintu jendela yang terbuka.

Atap Masjid Jamik ini berbentuk limas bertingkat dua merupakan produk dari Kebudayaan Jawa. Bentuk limas dari atap Masjid Jamik ini mengacu pada rumah tradisional Jawa dengan puncaknya adalah mustoko seperti mahkota raja / sultan.


Jember, 28 April 2017

Selasa, 18 April 2017

MENELISIK ASAL NAMA KENCONG – KECAMATAN DAN DESA KENCONG KABUPATEN JEMBER




Oleh
Y. Setiyo Hadi
Penggagas dan Pengelola Rumah Sejarah


Kencong, nama kecamatn dan desa di Kabupaten Jember, yang berada di jajaran pantai di bagian selatan Kabupaten Jember. Wilayah ini menjadi jalur perjalanan tilik desa yang dilakukan rombongan besar Raja Hayam Wuruk, raja yang termashur Kerajaan Majapahit, pada tahun 1359 Masehi (kitab Negarakratagama / Desawanana).

Kata Kencong sering kali diplesetkan dengan “Kenceng tapi Mencong”, yang dianalogikan dengan jalan-jalan yang ada di wilayah ini terlihat lurus (kenceng) namun setelah ditelusuri ternyata berkelok-kelok (mencong). Ini yang dilakukan secara gotak-gatuk pas.

Wilayah kencong merupakan lembah dataran rendah yang sedikit dataran tinggi sampai ke titik nol pesisir pantai selatan. Wilayah yang terlihat “kemilauan kekuningan emas” tatkala panen padi dengan bulir-bulir padi yang menguning, sehingga wilayah ini bagaikan “kencono” yang berwarna kekuningan keemasan.

Kesuburan bagaikan “kencono” ini menjadi daya tarik para “plancong” alias para migrant / pendatang untuk menetap di wilayah “kencono” yang kemudian terucapkan dengan ucapan “Kencong”. Para “plancong” turut membentuk nama “Kencong” sebagai tempat tinggal atau singgah para plancong.

Seorang pendeta pangeran dari Tatar Pasundan yang bernama Bujangga Manik sekitar abad 15 Masehi pernah menelusuri wilayah Kencong dengan menemukan nama Desa Cakru (Naskah Bujangga Manik). Dari Balambangan (banyuwangi), Bujangga Manik menelusuri wilayah Padangalun sampai pantai selatan melihat Pulau Nusa Barong dan sampai ke desa Cakru yang secara otomatis menelusuri pula wilayah Kencong.

Awal abad ke-19 Masehi, para peneliti Eropa seperti Thomas W. Horsfield (1804) dan Frans Wilhelm Junghuhn (1844) juga melakukan penelitian di wilayah Kindjung begitu sebutan dalam lidah orang Eropa untuk Kencong. Pada periode selanjutnya, tahun 1920-an, di Kencong dibangun Suiker Fabriek (Pabrik Gula) Gunungsari.

Kencong merupakan tanah yang subur berkilauan bulir-bulir padi tatkala panen seperi emas dengan warna kencono. Sehingga, kesuburan tanah “Kencono” menjadi akar dari penamaan nama Kencong yang subur.

Jember, 18 April 2017